Kamis, 17 Oktober 2013

Pantun Anak anak

Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum diungkapkan. Suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain. Pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat oleh sebab itu disukai dan digunakan hingga kini. Dengan berpantun seseorang akan berfikir dan bermain-main dengan kata.... 





Bila tak punya buah ketimun.
Baiklah merujak mangga muda.
Dari pada duduk melamun.
Marilah kita berpantun ria.

Ayang-ayang buah kepayang
Dimakan mabuk dibuang sayang
Bila bepantun menjelang petang
Semoga pikiran menjadi terang

Anak perawan berlaku santun.
Menjadi idaman para pemuda.
Bila enggan membalas pantun.
Komenlah saja apa adanya.

Kentang dipanggang dalam situn,
Dihidangkan panas diatas meja,
Bila dikau tlah pandai berpantun,
Ajaklah teman meramaikan pula

Anak perawan disarang penyamun
Sedang di-incar para pendekar
Apalah sulitnya dalam berpantun
Asal ceplos saja krn msh belajar

Lamalah sudah tidak ke kebun.
Tanaman habis dimakan rusa.
Bukan adik tak bisa berpantun.
Hanyalah karena belum biasa.


Rasa tak sanggup mendaki bukit.
Lebih baik naik dipunggung kuda.
Belajar berpantun tidaklah sulit.
Lebih sulit belajar naik sepeda.



Hiburan menonton layar tancap.
Baru pulang kerumah dipagi buta.
Nyatakan cinta tak mesti diucap.
Cukuplah dengan kerlingan mata.



Jangan sering-sering merujak mangga
Sekali-sekali makan lah pisang tembatu
Gara-gara mengerling ke janda muda
Pulang kerumah dihadiahi palang pintu


Bang mandor pergi sejak pagi
Hendak menghalau kereta api
Sarapan dg semangkuk bakmi
Ibunya senyum haru dihati



Manis rasa si buah duku
Banyak dijual di tengah kota
Bang mandor bukan tak laku
Banyak syarat buat wanita



Duku Oku beli di Bogor
Sepuluh ribu dapat sebokor
Bang mandor tak mau tekor
Inginkan calon yg blom kendor

Basahlah badan karena peluh
Sapu tangan, tolong ambilkan
Tersusun rapi jari sepuluh
Ada salah mohon maafkan.